Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

QS. Al-Maidah Ayat 54


Tampilkan postingan dengan label mutiara nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mutiara nasehat. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

Shalat Sekenanya

Bismillahirrahmanirrahim

Pada suatu sore hari, hampir satu jam selepas Ashar, di masjid dekat kampus masih ada beberapa orang yang tengah menunggu waktu dimulainya sebuah kajian rutin.

Sementara, seorang laki-laki dewasa masuk tergopoh-gopoh sambil menyeka air bekas wudhu di mukanya. Masih sambil berjalan, dia mengurai lintingan celana jins warna birunya. Sejurus kemudian mengikatkan handuk kecil yang semula ada di pundaknya pada bagian dengkul yang terbuka menganga. Mendadak langkahnya berhenti, dia memutar kuncung topinya ke belakang, lalu bertakbir dan memulai shalat ashar.

Sungguh pemandangan yang nampak aneh, kostumnya -celana jin biru belel, dengan ikatan handuk di dengkulnya, kaos oblong dengan gambar dan bertuliskan BOB MARLEY, serta topi yang kuncungnya dibalik di belakang- sulit dipercaya kalau lelaki dewasa itu tengah menjalankan shalatnya. Apalagi gerakannya yang cepatnya tak terduga. Sesekali pandangannya datar ke depan, atau juga sedikit mendongak ke atas ke arah sudut antara eternit dan dinding masjid. Belum tiga menit, 'drama shalat kilat' itu pun usai. Pelakunya menyudahi dengan salam yang juga tak sampai sempurna, bersambung dengan tengadah tangan sebentar kemudian diusapkan ke muka (berdoa) seraya berdiri dan ngeloyor keluar lagi. 'Drama' seperti itu, mungkin para pembaca juga pernah menyaksikannya.

Kini marilah kita bandingkan, bagaimana di antara para pendahulu kita melaksanakan kewajiban serupa. Ketika ditanya tentang bagaimanakah dia melaksanakan shalat, Hatim Al-Asham menceritakan, "Jika tiba waktunya shalat, aku sempurnakan wudhuku dan segera pergi ke tempat aku ingin shalat di dalamnya."

"Kemudian aku berdiri untuk shalat, dan aku jadikan Ka'bah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut ada di belakangku. Aku bayangkan seolah-olah bahwa shalatku ini adalah shalat terkahir bagiku. Aku berdiri dalam shalat dalam keadaan harap dan takut."

Dalam kesempatan lain dia juga berkata, "Aku berdiri karena untuk melaksanakan perintah-Nya, berjalan dengan rasa takut, memulainya dengan niat, membaca takbir memulainya dengan niat , membaca takbir dengan penuh pengagungan, dan membaca AlQuran dengan taril serta tafakur. Aku rukuk dengan khusyu', sujud dengan tawadhu', duduk tasyahud dengan sempurna dan mengucap shalat dengan niat. Aku menyudahi shalat dengan ikhlas karena Allah, dan aku pun merenungkan nasibku dengan perasaaan takut; khawatir jika Allah tidak menerima shalatku."

Manakah yang lebih baik antara yang pertama dan yang kedua? Kiranya kita bisa menyimpulkannya.

Penting kita catat, bahwa di samping shalat memang sebuah kewajiban yang harus kita tegakkan, ia juga merupakan syiar yang paling tinggi dari agama ini. Jika itu kita rendahkan dengan cara mengerjakan sekenanya, niscaya jatuh dan rendah pula harga diri pribadi dan agama kita ini. Wallahu A'lam.

sumber: Majalah ar-risalah no.70/Th.VI hlm. 27

Senin, 29 April 2013

Terkadang, Kebaikan Itu Harus Dipaksakan

Bismillahirrahmanirrahim

Sekian tahun lalu kata “tarbiyah” menurutku adalah sebuah ritual yang hanya buang-buang waktu saja. Bagaimana tidak? Sebuah kumpulan orang-orang “takut lelaki” melingkar di tempat yang jauh dari keramaian. Kemudian hanya membincangkan seputar Islam yang sangat membosankan. Ritual sakral atas nama “tarbiyah” memang telah lekat di telingaku sejak tahun pertama aku  mengenakan seragam putih abu-abu. Namun, cahaya hidayah tak jua mampu menembus gerbang syeitan la’natulloh ‘alaih. Tidak, bukan tak mampu. Lebih tepatnya tak mau mampir di hati. Hal ini jelas karena kemaksiatan yang aku lakukan.

Sebenarnya, diselubung hati terkecil masih ada gejolak ingin mengikutinya. Hanya saja, ketakutan atas penjilbab besar masih lebih besar ketimbang keinginan. Akibatnya, untuk hanya sekadar mengatakan aku inginpun begitu berat. Ketakutan ini pun terus berlanjut dan diperkuat dengan isu yang tersebar luas di masyarakat. Bahwa penjilbab besar adalah orang-orang yang melebih-lebihkan syariat, tak mau bersosialisasi, takut lelaki, bahkan dituding sebagai sebuah aliran sesat. Entah ini benar atau tidak, yang jelas hal inilah yang pada saat itu beredar dan aku tak pernah mengetahui benar tidaknya.

Lantas, apa hubungannya jilbab besar dengan  tarbiyah? Mengapa aku menyebut-nyebut tarbiyah kemudian memunculkan kata jilbab besar? Entah ini ada hubungannya atau tidak. Sesuai pengalaman yang pernah aku dapatkan bahwa, semua orang yang pernah mengajaku tarbiyah mereka adalah para perempuan dengan jilbab besarnya. Bahkan, hanya dengan mendengar kata tarbiyahpun maka yang terlintas dalam ingatan adalah para penjilbab besar.

Seiring dengan pergantian siang dan malam,  ketakutan-ketakutan menjadi sebuah sindrome  yang kusebut “phobia jilbab besar”. Istilah ini muncul disebabkan mainset yang terlanjur percaya bahwa mereka adalah aliran sesat. Sehingga hanya dengan  melihat atau mendengar pun, rasa takut dan  risih itu muncul. Phobia jilbab besar ini terus mengurat hingga masa putih abu-abu tinggal kenangan.

 من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
“Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk”[1]

Mungkin, akan muncul pertanyaan mengapa potongan kalimat pembuka majelis ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah tulisan. Aku akan segera menjawabnya. Aku yang dahulu adalah seorang “phobia jilbab besar” kini ternyata adalah  pelaku jilbab besar. Hal ini sesuai dengan potongan doa pembuka majelis tersebut. Allah Maha membolak-balikkan hati. Maka siapakah yang mampu menolaknya ketika Allah telah berkehendak.

Mungkin pula pembaca akan bertanya-tanya mengapa aku yang seorang “phobia jilbab besar” bahkan menjadi pelaku jilbab besar. Hal ini terjadi karena aku ikut-ikuttan pada penyelenggaraan ritual sakral atas nama “tarbiyah”. Sebenarnya tak serta-merta ikut-ikuttan, lebih tepatnya terpaksa ikut-ikuttan. Mengutip perkataan seorang teman bahwa terkadang kebaikan itu mesti dipaksakan. Dan aku bersyukur pernah berada dalam kondisi keterpaksaan itu.

Keadaan ini tentunya tak terjadi begitu saja. Ada sosok yang berdiri tegap di belakangku. Dia siap mendorongku tatkala aku mundur, dan siap menarikku ketika aku  lari dari tarbiyah. Maka  jadilah aku  terperosok dalam keterpaksaan ikut tarbiyah.

Tarbiyah  bagi sebagian orang -mungkin- menjadi hal paling menakutkan. Keadaan ini pun pernah terjadi pada diriku sendiri. Kurang lebih alasannya  sama seperti waktu jaman SMA dulu. Jilbab besar sang penyebar aliran sesat.

Namun, ketakutan  masyarakat ini bisa pula terjadi karena mereka tak mengetahui esensi dan apa tarbiyah itu sendiri. Bisa jadi mereka menganggap bahwa di lingkaran tarbiyah tersebutlah diajarkan aliran sesat. Hal inilah yang harus diluruskan.

Saat ini, sebagai salah satu pelaku jilbab besar tentu hal ini menjadi sebuah keadaan yang sangat menyedihkan. Sebagai seorang pelaku jilbab besar tentu akupun ingin saudari-saudariku merasakan hidayah yang saat ini aku rasakan. Tetapi, satu hal yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana mengubah persepsi yang terlanjur mengakar ini? Menurutku, jawabannya hanya satu, Tarbiyah Islamiyah.

Tarbiyah bukanlah seperti yang mereka persepsikan selama ini. Justru, melalui tarbiyahlah aku semakin terpikat oleh semua keindahan Islam. Menurut Umar Yusuf Hamzah mengemukakan bahwa secara umum kata tarbiyah dapat dikembalikan pada tiga akar kata yang berbeda;- يربو  ربا yang semakna dengan- ينمو  نما berkembang,  ربي- يربي yang berarti tumbuh, dan ربّ- يربّ yang bermakna memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga, memelihara dan mendidik. Berdasarkan pengertian ini dapat dianalisa bahwa tarbiyah  adalah mempelajari dan mengamalkan ilmu tentang keislaman dan dilakukan secara berkesinambungan. Pengertian ini telah jauh dari apa yang mereka persepsikan. Pada kenyataannya tarbiyah merupakan salah satu wadah yang didalamnya mempelajari ilmu-ilmu Islam sebagai bekal menuju dunia yang sesungguhnya.

Jika konsep tarbiyah ini dipahami oleh masyarakat, besar kemungkinan mereka tak segan-segan mengikutinya. Sehingga, merekapun dapat menjemput hidayah mereka melalui tarbiyah. Menjemput hidayah  melalui tarbiyah memang bukanlah satu-satunya jalan mendapatkan hidayah.  Masih banyak sarana-sarana lain. Meskipun demikian, aku ingin saudariku merasakan nikmatnya hidayah melalui tarbiyah. Mengenai hal ini, tentu manusia hanya bisa berusaha karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala-lah yang memegang kendali atas hati-hati manusia. Sebagaimana sabda-Nya:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia  lebih tahu terhadap orang-orang yang mendapatkan hidayah” [2]

Hidayah, hidayah, hidayah. Hidayah seperti apa yang diharapkan? Tentunya hidayah yang datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Hidayah adalah cahaya kelembutan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala turunkan kepada hamba-Nya yang ia kehendaki. Hidayah adalah sebuah karunia terbesar bagi manusia yang mampu mendapatkannya. Dan manusia terhebat adalah manusiayang mampu  menjaga hidayah. Namun, tak lengkap rasanya hidayah tanpa seorang pekerja keras. Siapakah pekerja keras itu? Menurutku, pekerja keras adalah manusia yang terus menambah dan mengejar kesibukan dunia untuk mendapatkan Syurga yang dijanjikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  

Seperti yang telah aku kemukakan bahwa hidayah adalah karunia terbesar. Hidayah adalah nikmat sebaik-baik nikmat. Aku bersyukur, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan hidayah-Nya kepadaku melalui tarbiyah Islamiyah. Alhamdulillah..

Dan kepada orang yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala titipkan untuk menjagaku, aku ucapkan jazakillah khair atas kesabarannya mendorongku tatkala mundur, dan menarikku ketika lari. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjagamu hingga takdir berlaku atas dirimu..

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, penuhilah hati ini dengan cahaya-Mu dan cukupkanlah hati ini dengan mengingatmu... Aamiin.

penulis adalah salah satu Mahasiswi Angkatan 2011 Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas


__________________________
[1] Sepenggal kalimat khuthbah yang sering disebut dengan khuthbah hajah, yang dicontohkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم di setiap khuthbah yang Beliau sampaikan, [كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول في خطبته يحمد الله ويثني عليه بما هو أهله ثم يقول: [من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له. إن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدى هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار] (رواه النسائي)
[2] Surat Al-Qashash : Ayat-56

Rabu, 24 April 2013

Fenomena Gangnam Style dan Harlem Shake.. Watch your step , Moslem!

Bismilahirrahmanirrahim

Tahun 2012 di mana merupakan tahun munculnya fenomena di kalangan masyarakat dunia khususnya Indonesia yang cukup mempengaruhi orang kebanyakan. Fenomena Gangnam Style, penulis sendiri mengherankan kenapa fenomena tarian aneh ini dengan mudahnya mengalir deras di dunia. Apa karena musik yang menghentak-hentak dan tarian oleh seorang laki-laki didampingi wanita-wanita cantik yang menari ala pengendara kuda? 

Di Indonesia, tarian ini sangat menjamur. tidak hanya di kalangan remaja, orang tua dan anak-anak pun menjadi sasarannya. Beberapa waktu ini penulis sungguh miris melihat salah satu berita di internet dengan headline kader partai di Indonesia yang notabene mengusung partai Islam menarikan tarian Gangnam Style ini. Ada pula salah satu stasiun tivi yang menayangkan kompetisi untuk anak-anak dan salah satu performancenya adalah tari Gangnam Style ini. Tak ayal pula, tarian ini menjadi sebuah ritual baru yang muncul di kebanyakan stasiun tv dan berbagai event-event remaja. Tarian ini seolah-olah menjadi representasi sebuah pengenalan 'have fun' baru yang berjamur di tengah remaja bahkan anak-anak.

Bahkan setelah Gangnam Style, muncul satu tarian yang cukup aneh dan tersebar di dunia bernama Harlem Shake. Penulis makin heran karena ternyata asal-usul tarian ini adalah kreasi dari tarian seorang pemabuk. Berikut yang dikutip dari MizanMag.

Tarian Harlem Shake ini berasal dari sebuah daerah bernama Harlem, terletak di negara bagian sekitar New York, Amerika Serikat. Sebelumnya, di daerah Harlem tarian ini bernama albee pada 1981. Albee diketahui berasal dari seorang pria bernama “AL B”, julukan Sisqo atau Cisco. Al B adalah seorang pemabuk di daerah tersebut yang dengan senang hati menari secara tidak beraturan. Meskipun Al B mengatakan bahwa tariannya itu berasal dari Mesir Kuno dan dianggap sebagai gambaran mumi yang menari, masyarakat di daerah Harlem sudah mengidentikkan tarian tersebut dengan Albee dari “AL B”.

Tarian Kuda? Tarian Pemabuk? Astagfirullahaladzim....

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda: “Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang biawak pun, niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya.” Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari).


Tarian ini hanyalah satu di antara sekian juta cara orang-orang kafir untuk merumuskan kaum muslim. Tersebarnya tarian “Gangnam Style” dan sejenisnya, adalah bukti kebenaran sabda Nabi Saw tersebut. Orang kafir sengaja membuat tarian ini dengan tujuan mengalihkan perhatian dan ingin mengalahkan kita secara perlahan. Melalui musik dan tarian yang mereka buat sudah mencuci otak kita dan memenuhi otak kita dengan tarian khas mereka. 

“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” (QS An-Nuur 39)

Amalan yang dilakukan oleh orang kafir hanyalah sebuah bentuk pemuasan diri. Pemuasan diri yang tidak berujung pada sebuah kepuasan dan kelegaan yang mendamaikan. Tarian ini hanyalah sebuah bentuk kesia-siaan yang tidak bermanfaat dan berlebih-lebihan. 

”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS Al-Baqarah 120)

Tidak cukupkah ayat ini memperingatkan kita akan tipu saya kaum yahudi dan nasrani? Semoga kita terhindar dari hal-hal yang menurunkan keimanan dan sebuah kesia-siaan dan tipu saya kaum kafir. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'ala. Aamiin...

Jumat, 01 Februari 2013

Hadits tentang Pertolongan Allah


Bismillahirrahmanirrahhim
عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ
[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].
Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa sekalipun manusia seluruhnya bersatu padu untuk memberikan pertolongan kepadamu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukan hal itu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah bagimu. Dan jika mereka bersatu padu untuk mencelakakan kamu, niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu  yang telah ditentukan oleh Allah atas dirimu. Qalam telah diangkat dan lembaran catatan amal perbuatan itu telah kering. (HR. At-Tirmidzi). Ia berkata: "Hadits hasan shahih". 
Dalam riwayat selain At-Tirmidzi: Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengenal Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah, bahwa apa yang ditakdirkan tidak menimpamu. Dan apa yang ditakdirkan menimpamu, niscaya tidak akan meleset dari padamu. Dan ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu selalu   bersama kesabaran, sesungguhnya kesempitan ada beserta kelapangan, dan kemudahan akan datang setelah kesulitan.

Sabtu, 22 Desember 2012

Kiat Menjadi Guru Profesional dan Islami


Bismillahirrahmanirrahim

Guru adalah sebuah profesi dan pekerjaan yang sungguh sangat mulia. Apakah seorang guru harus professional dan harus Islami?

Seorang guru harus mampu melihat situasi murid. Mempelajari watak murid satu-persatu agar mengetahui bagaimana tindakan yang tepat dalam mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Bukankah guru yang berhasil tidak hanya membuat murid pandai namun membuat murid tersebut memiliki akhlak yang baik dan sayang pada gurunya? Sayang kepada guru merupakan suatu bukti bahwa guru telah berhasil membawa rasa kasih dan sayang ke dalam hati murid-muridnya. Dan juga yang paling penting adalah mampu membawa perubahan teknologi yang kini mendunia menjadi teknologi yang ramah lingkungan. Ramah lingkungan di sini artinya tidak menjurus pada global warming namun lebih kepada bagaimana teknologi mampu membawa kita ke lingkungan yang lebih positif dan Islami.

Guru yang Islami merupakan guru yang ingin selalu berubah menjadi lebih baik dari hari ini. Jika seorang ibu menginginkan anak yang baik lahir dari rahimnya, maka si ibu haruslah memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Sama halnya seperti guru, guru yang memiliki akhlak dan keimanan yang baik akan memancarkan kesemuanya itu kepada murid-muridnya. Guru yang Islami otomatis akan memancarkan sebuah keprofesionalan. Sekalipun guru tersebut tidak bisa seprofesional guru-guru profesional di luar sana.