Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

QS. Al-Maidah Ayat 54


Selasa, 31 Desember 2013

Merenungi Hakikat Pesta Tahun Baru

Bismillahirrahmanirrahim

Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah anshar, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, beliau bersabda, ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” (HR. Abu Daud, no.498 dan Al-Baihaqi, no.1704)

Setelah menyebutkan hadis di atas, Syaikhul islam mengatakan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau tidak suka dengan terompet gaya yahudi yang ditiup, beliau beralasan, itu adalah kebiasaan Yahudi…(Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, Hal.117 – 118)

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa terompet termasuk benda yang tidak disukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena meniru kebiasaan orang Yahudi. Seorang yang mencintai Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenci Yahudi tentunya akan lebih memilih petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada petunjuk Yahudi yang sesat

( Warisan Agama Pagan )

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400)

Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum Muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.

( Belanja bukan Dijalan Allah / Mubazir )

Membakar uang berupa mercon dan kembang api itu sendiri telah dikecam oleh Allah Ta’ala dan Rasu-Nya:

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء/26، 27]

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS Al-Israa’ [17] : 26-27)

Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan:

« إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ ».

"Sesungguhnya Allah membenci kepada kalian tiga perkara: berdesas-desus (merumpi/ gossip), menghamburkan harta (untuk hal sia-sia)..." (HR. Muttafaq ‘alaih) .

( Larangan mengekor kebiasaan agama lain )

Kondisi global kaum non muslim berpesta raya kemudian kenapa kita bersedia mengikuti mereka dalam WAKTU bersamaan, sedangkan WAKTU adalah amanah yang luarbiasa MAHAL.

Kondisi dan derajat ujian yang ummat Islam hadapi dewasa ini sudah sangat mirip dengan gambaran hadits Nabi صلى الله عليه و سلم sebagai berikut:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْشِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍحَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِيجُحْرِ ضَبٍّلَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِآلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Muslim 4822)

Allah SWT berfirman:

“ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم”.

“Dan orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama/millah ( Tradisi khas keagamaan, jalan hidup ) mereka”. (QS. Al-Baqarah: 120)

Dengan menggunakan atribut ini sedikit demi sedikit akan mengikis kebanggaan kita dengan agama Islam yang mulia ini, dan bisa jadi bila ini diabaikan akan mengikis akidah kita, na’udzu billah. Mohon disebarkan demi kebaikan umat Islam dan meraih Rahmat Allah SWT, Semoga dilimpahi barokah diwaktu-waktu kedepan bila ikhlas dan tulus mencintai Agama Allah ini.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk selalu berpegang teguh kepada keyakinan dan ajaran Islam yang mulia ini. Allahu a’lam wa huwa yahdissabil.

( Informasi Terkait )






Senin, 30 Desember 2013

Merayakan Tahun Baru??

Bismillahirrahmanirrahim

Penghujung tahun dan hari pertama tahun baru Masehi merupakan momen yang sangat berharga bagi sebagian orang. Mereka pun menyiapkan segala sesuatu, dengan berbagai macam pesta untuk menyambut tahun baru.

Di negeri kita, saat malam pergantian tahun baru Masehi, para muda-mudi biasanya menggelar berbagai pesta. Di antara mereka ada yang bergadang larut malam untuk menunggu jam 00.00 tiba. Apabila waktunya telah tiba, mereka bergembira dan dengan serentak meniup terompet dan berpesta kembang api. Pawai sepeda motor pun dimulai dengan menarik gas sepenuhnya disertai yel-yel yang memekakkan telinga. Pada hari pertama tahun Masehi, mereka menghadiri panggung-panggung hiburan konser musik yang digelar di berbagai tempat di alun-alun, THR (tempat hiburan rakyat), maupun di tempat-tempat rekreasi lainnya.

Campur baur antara muda-mudi, bergandengan tangan dengan lawan jenis (yang memang telah direncanakan sebelumnya oleh pasangan muda-mudi tersebut), gelak tawa dan canda, isapan rokok yang bagaikan asap dari cerobong pabrik, serta berbagai minuman menjadi teman akrab yang senantiasa menyertai mereka.

Televisi, radio, dan para pemilik pusat perbelanjaan tidak mau absen dari ikut serta memeriahkan tahun baru. Berbagai promosi dan diskon besar-besaran diadakan dalam rangka menyambut Natal dan tahun baru Masehi. Begitu meriah acara yang digelar oleh mereka untuk menyambut kedatangan tahun baru masehi tersebut, sehingga membuat kebanyakan orang terbuai, tidak sadar ikut hanyut terbawa arus. Mereka tidak melihat berbagai macam dilema keagamaan, sosial, dan masyarakat yang timbul karenanya. Mereka tidak tahu bahwa perayaan tahun baru tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua itu hanyalah sebuah pemborosan, membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

Fenomena seperti ini merupakan realita kehidupan yang senantiasa berulang setiap pergantian tahun. Bahkan dari tahun ke tahun makin bertambah semarak dan makin tidak terkendalikan arusnya. Tahun ini, wallahu a’lam apakah yang akan terjadi dan mewarnai awal tahun baru Masehi di negeri kita ini.

Seorang muslim yang memiliki kecemburuan besar terhadap agamanya, tentu tidak setuju dengan semua itu, dan tentu tidak setuju bila hal itu sampai terjadi di tengah keluarga kita. Kita semua harus tahu bahwa pergantian tahun merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang tiada tara, yang hanya dipahami oleh orang-orang yang berakal yang memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”(Qs.Ali Imron[3]: 190-191)

Perayaan tahun baru di beberapa negara terkait erat dengan keagamaan atau kepercayaan mereka terhadap para dewa. Jika seorang muslim telah memahami hal ini, maka tentu ia akan memahami bahwa bagi  sebagian kaum kafir, merayakan tahun baru merupakan peribadahan. Sehingga apabila seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru maka boleh dibilang kerena ketidaktahuannya terhadap agamanya sebab ia telah menyerupai orang kafir yang menentang Allah dan Rasul-Nya.

Ingkarilah kemungkaran karena kemungkaran merupakan jalan menuju petaka. Begitu bahayanya akibat dari kemungkaran, maka seorang muslim harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah dan mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang ada sebatas kemampuannya, walau hanya dengan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Makin bertambah usia seorang muslim seharusnya makin ia sadar akan memanfaakan waktu dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat serta menjauhkan dirinya dari sesuatu yang membahayakan. Hendaklah kita mengingat masa penangguhan hidup kita di dunia. Ketika seorang muslim memasuki tahun baru, ia akan ingat bahwa berarti ia makin mendekati akhir masa penangguhan hidup di dunia ini. Bila senantiasa mengingat hal ini, maka kita pun akan semakin bersemangat mencari bekal untuk mendapatkan kebahagiaan ukhrowi (akhirat) yang kekal abadi. Berbahagialah dengan keislaman kita. Agama kita berbeda dengan agama lain, sehingga dilarang menyerupai orang kafir, terlebih lagi mengikuti cara beragamanya kaum kafir. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim meninggalkan perayaan tahun baru dan penanggalan ala kafir. Sebaiknya kita menghidupkan penanggalan Islam dalam rangka meninggikan syiar dan izzah Islam serta kaum muslimin. Selain itu, hendaknya kita mengingat kebesaran dan keagungan-Nya sehingga akan menambah rasa takut, cinta dan berharap akan ridho-Nya.

Diringkas dari artikel “Tahun Baru Haruskah Dirayakan?” oleh Abu Zahroh al-Anwar, Majalah al-Mawaddah Edisi ke-5 Tahun ke-2 Dzulhijjah 1429 H/Desember 2008

Shalat Sekenanya

Bismillahirrahmanirrahim

Pada suatu sore hari, hampir satu jam selepas Ashar, di masjid dekat kampus masih ada beberapa orang yang tengah menunggu waktu dimulainya sebuah kajian rutin.

Sementara, seorang laki-laki dewasa masuk tergopoh-gopoh sambil menyeka air bekas wudhu di mukanya. Masih sambil berjalan, dia mengurai lintingan celana jins warna birunya. Sejurus kemudian mengikatkan handuk kecil yang semula ada di pundaknya pada bagian dengkul yang terbuka menganga. Mendadak langkahnya berhenti, dia memutar kuncung topinya ke belakang, lalu bertakbir dan memulai shalat ashar.

Sungguh pemandangan yang nampak aneh, kostumnya -celana jin biru belel, dengan ikatan handuk di dengkulnya, kaos oblong dengan gambar dan bertuliskan BOB MARLEY, serta topi yang kuncungnya dibalik di belakang- sulit dipercaya kalau lelaki dewasa itu tengah menjalankan shalatnya. Apalagi gerakannya yang cepatnya tak terduga. Sesekali pandangannya datar ke depan, atau juga sedikit mendongak ke atas ke arah sudut antara eternit dan dinding masjid. Belum tiga menit, 'drama shalat kilat' itu pun usai. Pelakunya menyudahi dengan salam yang juga tak sampai sempurna, bersambung dengan tengadah tangan sebentar kemudian diusapkan ke muka (berdoa) seraya berdiri dan ngeloyor keluar lagi. 'Drama' seperti itu, mungkin para pembaca juga pernah menyaksikannya.

Kini marilah kita bandingkan, bagaimana di antara para pendahulu kita melaksanakan kewajiban serupa. Ketika ditanya tentang bagaimanakah dia melaksanakan shalat, Hatim Al-Asham menceritakan, "Jika tiba waktunya shalat, aku sempurnakan wudhuku dan segera pergi ke tempat aku ingin shalat di dalamnya."

"Kemudian aku berdiri untuk shalat, dan aku jadikan Ka'bah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut ada di belakangku. Aku bayangkan seolah-olah bahwa shalatku ini adalah shalat terkahir bagiku. Aku berdiri dalam shalat dalam keadaan harap dan takut."

Dalam kesempatan lain dia juga berkata, "Aku berdiri karena untuk melaksanakan perintah-Nya, berjalan dengan rasa takut, memulainya dengan niat, membaca takbir memulainya dengan niat , membaca takbir dengan penuh pengagungan, dan membaca AlQuran dengan taril serta tafakur. Aku rukuk dengan khusyu', sujud dengan tawadhu', duduk tasyahud dengan sempurna dan mengucap shalat dengan niat. Aku menyudahi shalat dengan ikhlas karena Allah, dan aku pun merenungkan nasibku dengan perasaaan takut; khawatir jika Allah tidak menerima shalatku."

Manakah yang lebih baik antara yang pertama dan yang kedua? Kiranya kita bisa menyimpulkannya.

Penting kita catat, bahwa di samping shalat memang sebuah kewajiban yang harus kita tegakkan, ia juga merupakan syiar yang paling tinggi dari agama ini. Jika itu kita rendahkan dengan cara mengerjakan sekenanya, niscaya jatuh dan rendah pula harga diri pribadi dan agama kita ini. Wallahu A'lam.

sumber: Majalah ar-risalah no.70/Th.VI hlm. 27

Minggu, 10 November 2013

Sumur Zamzam, Mukjizat, Fakta Sejarah dan Khasiatnya ~Bag. I~

Bismillahirrahmanirrahim

Kali ini kami akan posting mengenai air yang paling mulia di dunia ini. Air apakah itu? Dari judul pasti sudah cukup jelas ya. Postingan ini kami kutip seluruhnya dari dakwatuna.com tanpa mengubah sedikitpun redaksi kata di dalamnya. Untuk hari ini kami tidak memposting keseluruhan tetapi membaginya dalam beberapa postingan agar pembaca bisa jauh lebih paham dengan tulisan berikut. 


Siapa yang tidak mengenal sumur Zamzam? Seluruh umat Islam pasti mengenalnya, apalagi ketika mereka pernah masuk ke Masjidilharam di Mekah. Bagi yang tidak atau belum pernah masuk ke Masjidilharam, sumur Zamzam dapat dikenal dari buku-buku agama. Secara saintifik, sumur Zamzam dapat ditelaan dan dipelajari. Ilmu yang mempelajari masalah ini dalam cabang ilmu geologi disebut dengan hydrogeologi.


Sedikit cerita sebelum kelahiran Nabi Muhammad, diawali dengan kisah Istri dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar, yang mencari air untuk anaknya yang cerita. Sumur ini kemudian tidak banyak atau bahkan tidak ada ceritanya, sehingga sumur ini dikabarkan hilang.

Sumur Zamzam yang sekarang ini kita lihat adalah sumur yang digali oleh Abdul Muthalib kakeknya Nabi Muhammad. Sehingga saat ini, dari “ilmu persumuran” maka sumur Zamzam termasuk kategori sumur gali (Dug Water Well).

Dimensi dan Profil Sumur Zamzam
Bentuk sumur Zamzam dapat dilihat di bawah ini.
Miracle of ZamZam Water
Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30.5 meter. Hingga kedalaman 13.5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori. Lapisan ini berisi batu pasir hasil transportasi dari lain tempat. Mungkin saja dahulu ada lembah yang dialiri sungai yang saat ini sudah kering. Atau dapat pula merupakan dataran rendah hasil runtuhan atau penumpukan hasil pelapukan batuan yang lebih tinggi topografinya.


Mata air zamzam
Di bawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim ini terdapat setengah meter (0.5 m) lapisan yang sangat lulus air (permeable). Lapisan yang sangat lulus air inilah yang merupakan tempat utama keluarnya air-air di sumur Zamzam.


Kedalaman 17 meter ke bawah selanjutnya, sumur ini menembus lapisan batuan keras yang berupa batuan beku Diorit. Batuan beku jenis ini (Diorit) memang agak jarang dijumpai di Indonesia atau di Jawa, tetapi sangat banyak dijumpai di Jazirah Arab. Pada bagian atas batuan ini dijumpai rekahan-rekahan yang juga memiliki kandungan air. Dulu ada yang menduga retakan ini menuju laut Merah. Tetapi tidak ada (barangkali saja saya belum menemukan) laporan geologi yang menunjukkan hal itu.

Dari uji pemompaan sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11 – 18.5 liter/detik, hingga permenit dapat mencapai 660 liter/menit atau 40 000 liter per jam. Celah-celah atau rekahan ini salah satu yang mengeluarkan air cukup banyak. Ada celah (rekahan) yang memanjang ke arah hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm, juga beberapa celah kecil kearah Shaffa dan Marwa.

Keterangan geometris lainnya, celah sumur di bawah tempat thawaf 1.56 m, kedalaman total dari bibir sumur 30 m, kedalaman air dari bibir sumur = 4 m, kedalaman mata air 13 m, Dari mata air sampai dasar sumur 17 m, dan diameter sumur berkisar antara 1.46 hingga 2.66 meter.

Air Hujan Sebagai Sumber Berkah

air hujan zamzam
Kota Makkah terletak di lembah, menurut SGS (Saudi Geological Survey) luas cekungan yang mensuplai sebagai daerah tangkapan ini seluas 60 Km2 saja, tentunya tidak terlampau luas sebagai sebuah cekungan penadah hujan. Sumber air Sumur Zamzam terutama dari air hujan yang turun di daerah sekitar Makkah.


Sumur ini secara hydrologi hanyalah sumur biasa sehingga sangat memerlukan perawatan. Perawatan sumur ini termasuk menjaga kualitas higienis air dan lingkungan sumur serta menjaga pasokan air supaya mampu memenuhi kebutuhan para jamaah di Makkah. Pembukaan lahan untuk pemukiman di seputar Makkah sangat ditata rapi untuk menghindari berkurangnya kapasitas sumur ini.

zam_wadi-ibrahim
Gambar di samping ini memperlihatkan lokasi sumur Zamzam yang terletak di tengah lembah yang memanjang. Masjidil haram berada di bagian tengah di antara perbukitan-perbukitan di sekitarnya. Luas area tangkapan yang hanya 60 Km persegi ini tentunya cukup kecil untuk menangkap air hujan yang sangat langka terjadi di Makkah, sehingga memerlukan pengawasan dan pemeliharaan yang sangat khusus.


Sumur Zamzam ini, sekali lagi dalam pandangan (ilmiah) hidrogeologi , hanyalah seperti sumur gali biasa. Tidak terlalu istimewa dibanding sumur-sumur gali lainnya. Namun karena sumur ini bermakna religi, maka perlu dijaga. Banyak yang menaruh harapan pada air sumur ini karena sumur ini dipercaya membawa berkah. Ada yang menyatakan sumur ini juga bisa kering kalau tidak dijaga. Bahkan kalau kita tahu kisahnya sumur ini diketemukan kembali oleh Abdul Muthalib (kakeknya Nabi Muhammad SAW) setelah hilang terkubur 4000 tahun (?).

Dahulu di atas sumur ini terdapat sebuah bangunan dengan luas 8.3 m x 10.7 m = 88.8 m2. Antara tahun 1381-1388 H bangunan ini ditiadakan untuk memperluas tempat thawaf. Sehingga tempat untuk meminum air zamzam dipindahkan ke ruang bawah tanah. Di bawah tanah ini disediakan tempat minum air Zamzam dengan sejumlah 350 kran air (220 kran untuk laki-laki dan 130 kran untuk perempuan), ruang masuk laki perempuan-pun dipisahkan.

Monitoring dan pemeliharaan sumur Zamzam saat ini (inet)
Monitoring dan pemeliharaan sumur Zamzam saat ini (inet)
Sekarang ini ruang bawah tanah tersebut juga sudah ditutup untuk memberikan keluasan bagi jamaah haji dan umrah yang akan thawaf, shalat atau berdoa. Tetapi kalau Anda jeli, ketika Thawaf, kita masih dapat lihat tanda dimana sumur itu berada. Sumur itu terletak kira-kira 20 meter sebelah timur dari Ka’bah.

Monitoring dan Pemeliharaan Sumur Zamzam
Jumlah jamaah ke Makkah tiga puluh tahun lalu hanya 400 000 pertahun (di tahun 1970-an), terus meningkat menjadi lebih dari sejuta jamaah pertahun di tahun 1990-an, Dan saat ini sudah lebih dari 2.2 juta. Tentunya diperlukan pemeliharaan sumur ini yang merupakan salah satu keajaiban dan daya tarik tersendiri bagi jamaah haji.


Pemerintah Saudi tentunya tidak dapat diam pasrah saja membiarkan sumur ini dipelihara oleh Allah melalui proses alamiah. Namun pemerintah Arab Saudi yang sudah modern saat ini secara ilmiah dan saintifik membentuk sebuah badan khusus yang mengurusi sumur Zamzam ini. Sepertinya memang Arab Saudi juga bukan sekadar percaya saja dengan menyerahkan ke Allah sebagai penjaga, namun justru sangat meyakini manusialah yang harus memelihara berkah sumur ini.

zam_pumping_system_of-_zamz
Pada tahun 1971 dilakukan penelitian (riset) hidrologi oleh seorang ahli hidrologi dari Pakistan bernama Tariq Hussain and Moin Uddin Ahmed. Hal ini dipicu oleh pernyataan seorang doktor di Mesir yang menyatakan air Zamzam tercemar air limbah dan berbahaya untuk dikonsumsi. Tariq Hussain (termasuk saya dari sisi hidrogeologi) juga meragukan spekulasi adanya rekahan panjang yang menghubungkan laut merah dengan Sumur Zamzam, karena Makkah terletak 75 Kilometer dari pinggir pantai. Menyangkut dugaan doktor Mesir ini, tentu saja hasilnya menyangkal pernyataan seorang doktor dari Mesir tersebut, tetapi ada hal yang lebih penting menurut saya yaitu penelitian Tariq Hussain ini justru akhirnya memacu pemerintah Arab Saudi untuk memperhatikan Sumur Zamzam secara modern. Saat ini banyak sekali gedung-gedung baru yang dibangun di sekitar Masjidil Haram, juga banyak sekali terowongan dibangun di sekitar Makkah, sehingga saat ini pembangunannya harus benar-benar dikontrol ketat karena akan mempengaruhi kondisi hidrogeologi setempat.



Badan Riset sumur Zamzam yang berada di bawah SGS (Saudi Geological Survey) bertugas untuk:
  • Memonitor dan memelihara untuk menjaga jangan sampai sumur ini kering.
  • Menjaga urban di sekitar Wadi Ibrahim karena mempengaruhi pengisian air.
  • Mengatur aliran air dari daerah tangkapan air (recharge area).
  • Memelihara pergerakan air tanah dan juga menjaga kualitas melalui bangunan kontrol.
  • Meng-upgrade pompa dan tangki-tangki penadah.
  • Mengoptimasi supplai dan distribusi air Zamzam

Perkembangan Perawatan Sumur Zamzam.
Dahulu kala, zamzam diambil dengan gayung atau timba, namun kemudian dibangunlah pompa air pada tahun 1373 H/1953 M. Pompa ini menyalurkan air dari sumur ke bak penampungan air, dan di antaranya juga ke kran-kran yang ada di sekitar sumur zamzam.


Uji pompa (pumping test) telah dilakukan pada sumur ini, pada pemompaan 8000 liters/detik selama lebih dari 24 jam memperlihatkan permukaan air sumur dari 3.23 meters dibawah permukaan menjadi 12.72 meters dan kemudian hingga 13.39 meters. Setelah itu pemompaan dihentikan permukaan air ini kembali ke 3.9 meters di bawah permukaan sumur hanya dalam waktu 11 menit setelah pompa dihentikan. Sehingga dipercaya dengan mudah bahwa akifer yang mensuplai air ini berasal dari beberapa celah (rekahan) pada perbukitan di sekitar Makkah.

Banyak hal yang sudah dikerjakan pemerintah Saudi untuk memelihara Sumur ini antara lain dengan membentuk badan khusus pada tahun 1415 H (1994). dan saat ini telah membangun saluran untuk menyalurkan air Zamzam ke tangki penampungan yang berkapasitas 15.000 m3, bersambung dengan tangki lain di bagian atas Masjidil Haram guna melayani para pejalan kaki dan musafir. Selain itu air Zamzam juga diangkut ke tempat-tempat lain menggunakan truk tangki di antaranya ke Masjidil Nabawi di Madinah Al-Munawarrah.

Saat ini sumur ini dilengkapi juga dengan pompa listrik yang tertanam di bawah (electric submersible pump). Kita hanya dapat melihat foto-fotonya saja seperti di atas. Di sebelah kanan ini adalah drum hidrograf, alat perekaman-perekaman ketinggian muka air sumur Zamzam (Old style drum hydrograph used for recording levels in the Zamzam Well).




--------o0o--------

Itulah bagian pertama pada artikel mengenai air zam-zam. Tunggu bagian keduanya yaaaa! 

Sabtu, 22 Juni 2013

Seputar Bulan Sya’ban

Bismillahirrahmanirrahim

Dinamakan bulan Sya’ban karena bangsa Arab pada bulan tersebut berpencar untuk mencari air, atau karena ia muncul diantara bulan Rajab dan Ramadhan.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak berpuasa (pada bulan Sya’ban) sehingga kita mengatakan; beliau tidak pernah berbuka, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa sebulan penuh kecuali puasa dibulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak berpuasa melebihi puasa dibulan Sya’ban (muttafaqun ‘alaih).
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya oleh Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu kenapa beliau banyak berpuasa dibulan Sya’ban beliau menjawab: “Karena bulan ini banyak dilalaikan oleh manusia padahal pada bulan tersebut akan diangkat amalan-amalan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan saya ingin amalanku diangkat dan saya sedang berpuasa” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i)
Ibnu Rajab berkata: “Puasa dibulan Sya’ban lebih utama daripada puasa di bulan bulan haram, dan sebaik-baik amalan sunnah adalah yang dilakukan ketika dekat dengan bulan suci Ramadhan baik sebelum maupun sesudahnya, maka puasa pada bulan ini kedudukannya seperti sunnah-sunnah rawatib sebelum atau sesudah fardhu dan berfungsi untuk melengkapi jika ada kekukarang pada amalan fardhu tersebut. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan memiliki keutamaan lebih dibanding puasa-puasa lain yang bersifat mutlak atau umum. Oleh karena itu puasa yang dilakukan ketika sudah mendekati Ramadhan lebih utama dibanding puasa-puasa yang dilakukan jauh dari bulan suci ini”.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyebutkan bahwa bulan Sya’ban ini banyak dilalaikan oleh manusia menunjukan akan dianjurkannya kita untuk menggunakan waktu untuk ketaatan disaat manusia banyak melalaikannya, sebagaimana  kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dipasar dimana kebanyakan orang ditempat tesebut lalai akan akhirat dan disibukkan dengan urusan duniawi, diantara faidah yang bisa kita petik dari hal ini, diantaranya:
Ibadah pada waktu orang sedang lalai lebih membantu kita untuk berbuat ikhlash karena kita mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui oleh banyak orang, apalagi puasa yang merupakan rahasia antara Allah dan hamba-Nya.

Demikian juga beramal pada saat manusia lalai terasa lebih berat dibanding jika kita melakukan amalan secara beramai-ramai.
Para ulama berbeda pendapat tentang sebab kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak berpuasa dibulan Sya’ban, diantara pendapat mereka antara lain:

  1. Beliau  terkadang meninggalkan puasa tiga hari disetiap bulannya karena safar atau karena hal lain, oleh karena itu beliau menggumpulkannya dan menggantinya di bulan Sya’ban, sebab apabila beliau melakukan suatu amalan beliau akan selalu melakukannya dan jika ada yang tertinggal maka beliau mengqadha’nya.
  2. Disebutkan bahwa beliau banyak puasa pada bulan Sya’ban karena manusia banyak melalaikannya, dan barangkali ini adalah yang paling tepat sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Usamah bin Zaid diatas.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbiasa jika beliau belum sempat mengqadha’ puasa-puasa sunnah maka beliau menggantinya dibulan Sya’ban sebelum datangnya bulan Ramadhan, demikian pula jika ada shalat-shalat sunnah yang pernah terlewatkan maka beliau mengqadha’nya pada waktu yang lain. Disamping itu puasa sunnah dibulan Sya’ban juga merupakan latihan agar terbiasa melakukan puasa sehingga puasa Ramadhan akan terasa ringan karena ia sudah terbiasa berpuasa sebelumnya.
Dikarenakan puasa Sya’ban merupakan muqaddimah untuk memasuki puasa Ramadhan, maka dianjurkan pula untuk banyak membaca al Qur’an dan bersedekah serta memperbanyak amalan-amalan shalih lainnya. Hanya saja kita dilarang untuk melakukan puasa ketika sudah mendekati akhir Sya’ban kecuali jika kita sudah terbiasa berpuasa sebelumnya, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sunnah satu atau dua hari sebelumnya hal ini supaya kita tidak menambah Ramadhan dengan puasa lain yang bukan termasuk darinya, kita juga dilarang berpuasa pada hari syak (ragu-ragu antara akhir Sya’ban atau awal Ramadhan), beliau bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka ia telah berbuat maksiat terhadap Abul Qashim (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)”. Itu semua dimaksudkan supaya ada pembatas antara puasa sunnah dan puasa wajib karena kita diperintahkan untuk membedakan antara keduanya, sebagaimana kita juga dilarang untuk berpuasa pada hari raya.
Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat sesorang yang melakukan shalat sunnah fajar setelah iqamat dikumandangkan lalu beliau menegur: “Apakah shalat subuh empat rakaat?” (HR. Bukhari). Hadits ini juga dijadikan dalil sebagai larangan untuk melakukan shalat sunnah setelah iqamat dikumandangkan kecuali jika ia sudah terlanjur melakukannya  maka ia boleh memilih antara meneruskan atau membatalkannya.

Bid’ah-bid’ah dibulan Sya’ban
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Maidah:3)
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah” (QS. asy-Syuuraa: 21)
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang membuat hal-hal baru dalam perkara kami (agama islam) yang tidak termasuk darinya maka hal itu pasti tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadits diatas menunjukan bahwa syariat islam sudah sempurna dan tidaklah Allah mewafatkan Nabi-Nya kecuali setelah ia menyampaikan semua syari’at agama dengan jelas dan sempurna, maka siapa saja yang menambah sesuatu dalam syari’at islam pasti tertolak dan tidak akan diterima.
Ada beberapa amalan yang sering dilakukan dibulan Sya’ban akan tetapi hal itu tidak ada contohnya sama sekali dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga para shahabatnya serta para ulama yang mu’tabar, diantara amal-amalan tersebut diantaranya:
  • Shalat alfiyah yaitu shalat yang terdiri dari 100 rakaat yang dilakukan pada pertengahan Sya’ban dengan berjamaah, pada setiap rakaatnya imam membaca surat al ikhlas 10 kali, shalat ini didasarkan pada sebuah hadits palsu yang tidak ada asalnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  • Mengkhususkan malam nisfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban) untuk melakukan shalat dan siangnya untuk berpuasa berdasarkan hadits palsu yang berbunyi: “Shalatlah kalian dimalam harinya dan berpuasalah pada siang harinya”
  • Shalat tolak bala dan supaya panjang umur, yaitu shalat 6 rakaat yang dilakukan pada malam nisfu Sya’ban, demikian pula membaca surat yasin pada malam tersebut.
Imam Al Ghazali Rahimahullah mengatakan: “Shalat-shalat ini sangat masyhur dikalangan mutaakhirin penganut aliran sufi yang saya tidak tahu bahwa shalat maupun doa-doanya berdasarkan dalil yang shahih, akan tetapi itu semua tidak lain adalah bid’ah. Sahabat-sahabat kami telah membenci untuk berkumpul-kumpul pada malam nisfu Sya’ban baik di masjid maupun di tempat lainnya”.
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “shalat Rajab (raghaib) dan shalat nisfu Sya’ban adalah merupakan dua bid’ah yang mungkar serta sangat buruk”.
Alangkah indahnya ungkapan yang berbunyi: “Sebaik-baik perkara adalah yang berdasarkan petunjuk dan yang paling buruk  adalah  bid’ah yang diada-adakan”
Wajib bagi kita semua supaya beribadah sesuai dengan dalil dan contoh dari Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya yang mulia serta menjauhi segala bentuk ibadah yang diadadakan dalam agama, karena semua hal baru dalam agama ini adalah bid’ah dan semua kebid’ahan adalah tempatnya di neraka wal’iyaadzu billaah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membimbing kita semua ke jalan-Nya yang lurus dan dijauhkan dari semua bentuk kesesatan dan dosa, amin yaa rabbbal ‘alamin.
Disarikan dari “Haul Syahr Sya’ban”
Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah



SUNNAH MELAKUKAN PERSIAPAN MENYAMBUT RAMADHAN DARI JAUH HARI

Bismillahirrahmanirrahim

- Bagaimanakah perasaan anda jika ada seorang tamu yang anda cintai dan rindukan memberitahu, bahwa ia akan datang dan tinggal bersama anda selama beberapa hari, apa yang akan anda lakukan? Tidak diragukan lagi, anda akan senang dan berbahagia, kemudian anda akan bersiap-siap menyambut kunjungan itu dan sedapat mungkin anda akan merapikan diri, membersihkan rumah dan menyiapkan acara-acara yang menarik dalam rangka kunjungan itu. Bukankah demikian ? Jawabannya adalah, "Tentu !" 

Bagaimana jika tamu itu bukan saja anda cintai, akan tetapi juga dicintai Allah, Rasul-Nya dan seluruh kaum muslimin? Bagaimana jika tamu ini selama tinggal bersama kita antara siang dan malam-nya membawa kebaikan dan keberkahan? 

Tamu yang dimaksud itu tidak lain adalah Ramadhan, bulan yang mulia, bulan Al-Qur'an, bulan shiyam, bulan bertahajjud dan qiyamullail, bulan kesabaran dan takwa, bulan kasih sayang, ampunan dan terbebasnya hamba dari api neraka, bulan yang terdapat di dalamnya suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana syetan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka. 

Bulan di mana amal kebaikan dilipatgandakan dan penuh berkah dalam ketaatan, bulan pahala dan keutamaan yang agung. Maka seyogyanya setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu ini untuk menyambutnya sebaik mungkin, mempersiapkan berbagai amal kebajikan agar memperoleh keberuntungan yang besar dan tidak berpisah dengan bulan itu, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, 
"Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu" (Asy-Syam: 9). 

Para pendahulu umat ini telah memahami betapa tinggi nilai tamu tersebut. Oleh karena itu, diriwayatkan, bahwa mereka berdo’a kepada Allah agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya, dan apabila mereka mengakhirinya, mereka menangis dan berdo'a kepada Allah agar amal mereka pada bulan-bulan yang lain diterima, demikian seperti dinukil Ibnu Rajab rahimahullah. 

Untuk menyambut bulan yang mulia ini, kami ringkaskan beberapa point penting sebagaimana berikut: 

Berdo'a, semoga Allah memperpanjang umur kita sampai pada bulan Ramadhan, seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum salaf, begitu pula memohon kepada Allah pertolongan dan kekuatan dalam menunaikan shaum, qiyamullail dan beramal shalih di dalamnya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, 
"Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan". (Al-Fatihah:5) 

Kebersihan dan kesucian, maksudnya adalah kebersihan ma'nawi yaitu taubat yang tulus dan sebenar-benarnya dari segala dosa dan maksiat. Bagaimana mungkin seseorang menunaikan shaum sedangkan dia berbuka dengan sesuatu yang haram, atau meninggalkan shalat, atau durhaka kepada kedua orang tua, sehingga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat dan malaikat Jibril pun mengamininya? 

Bagaimana anda menginginkan shaum yang diterima dan bermanfaat, sedangkan anda berada dalam keadaan melakukan dosa ini dan itu? 
Belumkah anda mendengar sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang artinya, 
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum". (HR. Al Bukhari). 
"Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga". (Shahih Al Jami'). 

Maka Bertaubatlah dengan taubat yang tulus dan sebenar-benar taubat, sebab pintu taubat masih terbuka. Dan taubat itu bukan sekedar meninggalkan perbuatan dosa, akan tetapi dengan mengembalikan hati dan hawa nafsu kepada Dzat Yang Maha Mengetahui alam ghaib, "Maka kembalilah kepada Allah". (Adz-Dzariat:50). 

Di antara persiapan jiwa dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, hendaknya anda dengan sepenuh hati melakukan shaum sebaik-baiknya dan beramal shalih pada bulan Sya'ban. Sebab pada bulan Sya'ban nanti segala amal perbuatan diangkat kepada Allah, sebagaimana sabda Rasululah Shalallaahu alaihi wasalam yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid. 

"Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melakukan shaum sepanjang bulan Sya'ban atau melakukan shaum pada bulan itu kecuali beberapa hari saja beliau tidak melakukannya". (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 

Di antara masalah penting lainnya adalah bertafaqquh (memahami) hukum-hukum shaum dan mengenal petunjuk Nabi Shalallaahu alaihi wasalam sebelum memasuki shaum; mempelajari syarat-syarat shaum, syarat sahnya, yang membatalkannya, hukum shaum pada hari yang diragukan, apa yang boleh, wajib atau haram dilakukan oleh seseorang yang sedang melakukan shaum, apa etika dan sunnah-sunnahnya, hukum-hukum qiyamullail, berapa bilangan raka'atnya, hukum-hukum shaum bagi yang berhalangan baik karena safar (bepergian) atau sakit, hukum zakat fitrah dan lain sebagainya. Begitu pula mengenai petunjuk Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dalam bulan Ramadhan yang bertalian dengan diri beliau, shaumnya, qiyamullailnya, kemurahan hatinya, pemeliharaan dirinya serta keteladanan beliau dalam bertadarrus Al-Qur'an, juga yang berkaitan dengan keluarga dan umatnya. Sebab segala sesuatu harus didahului dengan ilmu dan pemahaman sebelum mengamalkannya. 

Mempersiapkan acara-acara menyambut "tamu agung", di antara-nya dengan membaca Al Qur'an, mempelajarinya kemudian menghafalnya, qiyamullail, memberi ifthar (buka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, melakukan umrah, i'tikaf, dan berlomba dalam kebaikan dengan semangat fastabiqul khairat, shadaqah, dzikir, penyucian jiwa dan lain sebagainya. 

Demikianlah ringkasan bagaimana kita menyambut bulan Ramadhan yang dapat kami kemukakan. Kita berdo'a semoga Allah berkenan memberi taufiq dan hidayahNya kepada kita agar dapat beramal shalih pada bulan Ramadhan. 

"Ya Allah, pertemukan kami dengan bulan Ramadhan dan berilah kami pertolongan untuk dapat menunaikan shiyam, qiyam, dan amal shalih di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya. Teguhkanlah kami pada ketaatan sampai kami menemuiMu, sesung-guhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan segala do'a". Amin. 

~Tim Ustadz Yusuf Mansur Network~

Penataran Seputar Ramadhan 1434 Hijriyah

Bismillahirrahmanirrahim

Wahai Kaum Muslimin, Hidupkan Ramadhanmu!
 Mau tahu bagaimana caranya?

Ikuti PENATARAN SEPUTAR RAMADHAN 1434 H.
Hari Sabtu - Ahad, 29 - 30 Juni 2013.
Pukul 08:00 - 17.00 WITA.
Di Masjid Kampus Universitas Hasanuddin.


Kontribusi Peserta :
Rp 40.000,- (Umum)
Rp 30.000,- (Mahasiswa/Pelajar)

 Presented By LIDMI, Ummat TV, Makkah AM.


Rabu, 12 Juni 2013

KUNCI JAWABAN ~try out akbar muslimah 2013~

Bismillahirrahmanirrahim


Berikut kunci jawaban dari try out yang diselenggarakan beberapa pekan yang lalu....  Silakan...

kunci jawaban ipa
kunci jawaban ips part 1

kunci jawaban ips part 2

kunci jawaban ipc part 1
kunci jawaban ipc part 2
Untuk melihat lebih jelas silakan klik pada gambar. 

Selasa, 11 Juni 2013

PENGUMUMAN NILAI PESERTA TRY OUT AKBAR MUSLIMAH SBMPTN 2013 (PROGRAM CAMPURAN)

Bismillahirrahmanirrahim


PENGUMUMAN NILAI PESERTA TRY OUT AKBAR MUSLIMAH SBMPTN 2013
PROGRAM CAMPURAN
No Nama Asal sekolah Total poin Nilai
1 Leady Fitriani SMAN 1 Bau Bau 121 16.81
2 Siti hasna Binti hayub SMAn 21 Makassar 115 15.97
3 Nur Rezky Pratiwi SMAN 11 Makassar 114 15.83
4 Nur Istani Sari SMAN 2 TinggiMoncong 98 13.61
5 Yunita Mukarrama SMAN 1 Soppeng 92 12.78
6  A Patappari Uleng SMAN 1 Liliriaja 89 12.36
7 Ummu Kaltsum SMAN 1 Bajeng 89 12.36
8 Riri Riska A Basri SMK Yapis Biak 88 12.22
9 Rosita MAN 2 Sinjai Timur 87 12.08
10 Nur Asma MAN 2 Model Makassar 87 12.08
11 Nua Alfillailah SMAN 4 bantimurung 87 12.08
12 Nurhidayah SMAN 5 Makassar 83 11.53
13 Lisa Indrawati SMAN 1 SINJAI Selatan 82 11.39
14 Nur eka sari SMAN 1 bajeng 80 11.11
15 Ria Restiyana Ahmad SMAN 5 Makassar 76 10.56
16 wulfa Chaerunnisa SMAN 4 bantimurung 75 10.42
17 Indah Chaerunnisa MAN 2 Model Makassar 71 9.86
18 Zulfiana SMAN 4 bantimurung 71 9.86
19 Hijra SMAN 2 Bua Ponrang 70 9.72
20 WD Rodiatun Sholiha SMAN 1 Bau Bau 67 9.31
21 Nurfadhila Bahar SMAN 1 Sungguminasa 65 9.03
22 Rahmatia SMAN 1 SINJAI Selatan 63 8.75
23 Sri handayani Tidar SMAN 7 Makassar 62 8.61
24 Sutriani SMAN 1 Pangsid 62 8.61
25 Kasmawati MA As'adiyah 15 Ongkoe 62 8.61
26 Ulfa Mawir SMAN 11 Makassar 60 8.33
27 Widia Faradila W MAN 2 Sinjai Utara 59 8.19
28 Elistya Nurahmi SMAN 15 Makassar 58 8.06
29 Aan Ahdiah Nur hadba SMAN 9 Bulukumba 58 8.06
30 Sri Wahyuni L SMAN 16 makassar 56 7.78
31 Nur Rifqah SMAN 4 Bantimurung 56 7.78
32 Miftah Fadliah SMAN 8 Makassar 54 7.50
33 Rahmawati Palette SMAN 2 Palopo 52 7.22
34 NURULRAHMI SMAN 1 Liliriaja 46 6.39
35 Masita Mansur SMAN 1 Angkona 46 6.39
36 Winarsih Aritonang SMAN 14 Makassar 45 6.25
37 A Suryaningsih arya SMAN 1 SINJAI Selatan 45 6.25
38 Hardianti Nasir SMAN 2 Bua Ponrang 44 6.11
39 Sri Mawar Hajrianti SMAN 7 Makassar 43 5.97
40 Deivi Suliayanti MAS Aisyiyah Cab.Makassar 42 5.83
41 Abida Fuji Rezki SMAN 1 Larompong 42 5.83
42 Nurfadillah SMAN 6 Makassar 42 5.83
43 Arianti Azis SMAN 1 LUWUK 41 5.69
44 Nur Hasni SMAN 1 Kahu 38 5.28
45 Nur Ismi Ramadhani SMAn 7 Bulukumba 37 5.14
46 Dwi Nur Apipa SMAN 7 Makassar 35 4.86
47 Nurlaela SMK Techno terapan makassar 33 4.58
48 Rindi Wulandasari SMAN 1 Bajeng 32 4.44
49 Hasnita Tahir SMAN 1 Kamanre 32 4.44
50 Nurlinda SMAN 1 SINJAI Selatan 31 4.31
51 Lia Kartika SMAN 11 Makassar 30 4.17
52 Resky Amalia SMAN 1 Sinjai Utara 29 4.03
53 Rahdayanti L SMAN 1 TOILI 28 3.89
54 Mayasari SMAN 1 bajeng 28 3.89
55 Wahyuni Auliya AR SMAN ummul Mukminin 28 3.89
56 sarwinda SMAN 1 lappariaja 27 3.75
57 Rahmayani Nurdin SMAN Maddi Lombo'na 27 3.75
58 ST Fadhilah FL SMAN 6 Makassar 25 3.47
59 Yunisa Fitri SMAN 1 LUWUK 23 3.19
60 Mustika  SMAN 1 Pinrang 21 2.92
61 Nadya Inggriani P SMAN 15 Makassar 19 2.64
62 Ria Andriani SMAN 1 Bone Bone 18 2.50
63 Devi Wahyuni SMAN 1 Pinrang 15 2.08
64 Diah Tri Yuliah SMAN 15 Makassar 11 1.53
65 Jumriah SMAN 1 Pasui 2 0.28
66 Fitriani -2 -0.28
67 Herni Mustaring SMAN 1 Wotu -13 -1.81
68 intan Syamsu Alam Man 3 Makassar -18 -2.50
69 Surahma SMAN 2 Palopo -20 -2.78
70 Ani MAS Aisyiyah Cab.Makassar -24 -3.33